oleh

Tradisi Tangkap ‘Ipung’, Ratusan Warga Datangi Muara Wajo Sikka

-SOSBUD-782 views

MAUMERE, MN-  Tradisi menangkap Ipung atau sejenis ikan kecil berbentuk panjang yang muncul pada bulan-bulan tertentu di kawasan perairan pantai selatan Kabupaten Sikka, telah dilaksanakan secara turun temurun di kawasan itu.

Pantauan wartawan, sekitar ratusan orang, tua muda dan anak kecil, mendatangi muara Kali Wajo Wara Desa Korobhera Kecamatan Mego Kabupaten Sikka, atau perbatasan antara Desa Korobhera dan Desa Paga.

Mereka bukan hanya datang dari desa-desa di Kecamatan Mego dan Kecamatan Paga Kabupaten Sikka saja, tetapi ada beberapa diantara mereka datang dari Kecamatan Watuneso Kabupaten Ende.

Mereka tinggal dan bermalam di kawasan itu hingga musim Ipung selesai. Sehingga tak heran, jika terlihat tenda-tenda darurat sebagai tempat tinggal sementara terlihat berjejer di kawasan itu. Pondok sederhana yang didirikan juga sering berpindah-pindah sesuai dengan lokasi munculnya ipung.

Meski tak diterangi dengan listrik, namun mereka bertahan di pondok-pondok kecil yang dibangun dengan bahan seadanya, seperti dahan kelapa dan daun-daunan lainnya. Penerangan mereka pun hanya mengandalkan dian bersumber dari minyak tanah.

Aktivitas menangkap ipung ini, sudah dilakukan sejak beberapa pekan terakhir, di tengah wabah covid 19 yang saat ini sedang melanda seluruh belahan dunia.

Mereka juga mengaku, hasil tangkapan mereka, langsung dipasarkan di beberapa pasar tradisional atau sekedar berjualan keliling dari satu desa ke desa yang lainnya. Harganya pun sangat murah yakni hanya Rp. 5.000 per tumpukan atau biasa disimpan pada bekas wadah sabun cuci berkisar 300 hingga 400 mili liter.

Dari penuturan sejumlah warga yang berhasil ditemui, tradisi menangkap ipung ini sudah dilaksanakan setiap tahunnya, ketika pasca musim panen yakni antara bulan April hingga Juli.

Dengan peralatan sederhana, sejumlah warga serius mengurusi perangkap mereka. Umumnya, perangkap mereka terbuat dari anyaman bambu yang sangat rapat, sehingga tidak memungkinkan ipung bergerak keluar. Biasanya warga menyebutnya dengan nama Notu.

Ada juga yang menggunakan kain kelambu sebagai alat tangkap.

 

Mereka umumnya, membuat aliran sungai dengan tumpukan batu dan mengarahkannya ke perangkap, Beberapa jam lamanya mereka menunggu, barulah perangkap mereka diangkat. Saat diangkat, jumlah ipung yang masuk dalam perangkap bisa mencapai ribuan jumlahnya.

Beberapa warga mengaku, jika tradisi menangkap ipung ini, dilarang untuk kaum ibu yang sedang hamil.

“Memang ini sudah menjadi kepercayaan masyarakat di sini, bahwa saat menangkap ipung, tidak boleh melibatkan perempuan yang sedang hamil. Bahkan, suami dari istrinya yang sedang hamil pun dilarang untuk menangkap ipung. Kepercayaan masyarakat di sini, jika mereka datang maka ipungnya akan hilang,” ujar Robertus Reu, warga Desa Korobhera kepada wartawan.

Hal senada pun disampaikan Hendelikus Laka. Menurut dia, bukan hanya itu saja, mereka yang baru pulang melayat orang mati, atau keluarga yang sedang berduka pun, dilarang untuk datang ke lokasi ini.

“Yah, namanya ini kepercayaan dan itu tetap kami jaga selama ini,” ujarnya.

Philipus Sawe, warga Watuneso Kabupaten Ende yang dihampiri di tenda tempat tinggalnya mengaku, mereka sudah 4 hari berada di lokasi ini.

“Yah kami sudah biasa datang ke tempat ini pada musim-musim panen ipung. Biasanya, kami jemur dan simpan untuk bahan makanan kami beberapa bulan ke depan. Ada yang memang datang beli dan dijual kembali,” ujarnya.

Tradisi tangkap ipung pada bulan-bulan tertentu di Pantai Selatan Kabupaten Sikka ini menjadi ritual tahunan bagi warga di sekitar kawasan tersebut. Diharapkan, pesta panen dan tangkap ipung ini, bisa dijadikan sebagai wisata budaya dan wisata perairan di kawasan itu untuk mendukung potensi pariwisata di Nian Tana Sikka.(SON-R1)

Bagikan

Komentar

Berita Lainnya