oleh

SMP Watukrus Bola Sikka Dipalang Pemilik Hak Ulayat

-HUKRIM-860 views
MAUMERE, MN- SMP Watukrus Kecamatan Bola Kabupaten Sikka, sekitar pukul 06.00 WITA, dipalang oleh pemilik hak ulayat. Akibatnya, ratusan siswa di sekolah itu sempat tidak mengikuti proses kegiatan belajar mengajar, Selasa (19/11/2019)
 
Meski demikian, upaya pendekatan secara persuasif dilakukan oleh aparat keamanan dalam hal ini Polsek Bola dan akhirnya palang itu pun dibuka.
 
Kapolres Sikka, AKBP Rickson Situmorang, SIK dalam press releasenya yang diterima Maumere News, Selasa (19/11/2019) pasca penyelesaian pemalangan itu membenarkan kejadian itu.
 
Aksi Pemalangan dilakukan oleh warga yang mengaku sebagai pemilik lahan sekolah atas nama Soge.
 
Atas aksi pemalangan gerbang sekolah tersebut, lanjut dia, Polsek Bola telah mengambil langkah yakni melakukan pendekatan dengan pemilik hak ulayat. Mediasi itu pun berhasil, akhirnya palang sekolah tersebut dibuka. Bukan hanya itu saja, pihaknya juga melakukan koordinasi dengan pihak sekolah untuk mendorong Yayasan Sanpukat Maumere, agar segera mengurus persoalan kepemilikan tanah aset sekolah dengan mengurus sertifikat hak milik tanah.
 
Dari hasil koordinasi dengan pihak sekolah, jelas Kapolres, diketahui bahwa sampai saat itu tanah tersebut belum memiliki sertifikat hak milik tanah dan sebelumnya pihak sekolah, Yayasan Sanpukat dan Komite Sekolah bersama para orang tua murid telah bersepakat untuk membayar ganti rugi tanah dengan nilai Rp 75 juta.
 
Dana itu, lanjut Kapolres, disumbang oleh orangtua siswa namun pembayaran ganti rugi tidak dilaksanakan karena tahun 2018, pemilik hak ulayat dan pihak sekolah serta Yayasan Sanpukat pernah berperkara secara perdata di Pengadilan Negeri Maumere. Perkara itu dimenangkan oleh pihak sekolah dan Yayasan Sanpukat, sehingga kesepakatan ganti rugi tanah dibatalkan oleh pihak sekolah.
 
Kapolres menambahkan, pihaknya pun mendorong kedua belah pihak, agar segera menyelesaikan keperdataan kepemilikan tanah.
 
Orang Nomor Satu di Polres Sikka ini pun menegaskan, selama belum ada kepastian terkait kepemilikan lahan, tidak boleh ada pihak-pihak lain yang menutup operasional sekolah, sehingga dapat mengganggu kegiatan belajar mengajar. 
 
Hingga berita ini diturunkan, kegiatan belajar mengajar sudah berjalan normal.(SON-R1)
 
Bagikan

Komentar

Berita Lainnya