oleh

Sedimentasi Bendungan dan Saluran Air di DAS Nangagete Akibat Galian C

-SOSBUD-728 views

MAUMERE, MN – Tingginya aktivitas penambangan galian C di 2 sungai yang berada di Daerah Aliran Sungai (DAS) Nangagete, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, menyebabkan terjadinya sedimentasi di sepanjang aliran sungai dan penumpukan sedimentasi di Bendungan Nangagete dan saluran air petani pengguna air.

Hal ini dikemukan oleh Petugas Pengelola Air Bendungan Nangagete, Gabriel da Silva saat bersama – sama media ini melihat aktivitas pertambangan di sepanjang aliran sungai yang berada di Munet dan Nangagete B, Kecamatan Talibura pada Sabtu (3/8) pagi.

Selaku petugas pengelola air sekaligus petani, dirinya meminta Dinas Lingkungan Hidup dan Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi NTT untuk memantau aktivitas pertambangan di Munet dan di berbagai lokasi di DAS Nangagete. Sehingga bisa berjalan sesuai ketentuan dan tidak menggangu aktivitas pertanian warga Bangkoor dan Nebe yang sangat bergantung dari air Bendungan Nangagete.

Menurut Gabriel da Silva, penggalian material Galian C di DAS Nangagete menyebabkan terjadinya pendangkalan sungai dan minimnya pasokan air yang masuk menuju ke Bendungan Nangagete.

“ Air sedikit yang mengalir. Lebih banyak pasir sehingga terjadi sedimentasi di bendungan maupun di saluran air menuju ke persawahan warga baik di Nebe maupun Bangkoor,”ungkap Gabriel da Silva.

Ia mengharapkan perusahaan yang melakukan aktivitas penambangan dan pengakutan material di Nangagete dapat memperhatikan aliran air dan kerusakan lingkungan yang ditimbulkan sehingga tidak berdampak merugikan bagi petani di Bangkoor dan Nebe.

Lanjutnya, dengan minimnya pasokan air ke Bendungan Nangagete serta banyaknya sedimentasi lumpur akibat aktivitas penambangan menyebabkan banyak petani mengalami gagal tanam sekaligus gagal panen.

Lanjutnya, penggalian material Galian C sudah semestinya dimonitoring secara rutin oleh instansi teknis terkait sehingga dampak kerusakan lingkungan yang ditimbulkan dapat diminimalisir.

Dijelaskan Gabriel da Silva, jika terus dibiarkan, yang sangat merasakan dampak kerugian adalah para petani sawah di Desa Nebe dan Desa Bangkoor yang sangat bergangtung dari pasokan air Nangagete. Sedimentasi lumpur sudah begitu tinggi tidak hanya pada bendungan tetapi juga di sepanjang saluran air. Ini mengakibatkan pasokan air yang dapat mengalir kepada petani di persawahan semakin berkurang dari hari ke hari.

Lanjut Gabriel da Silva, jika pemerintah peduli dengan keberlangsungan pertanian sawah di Nebe dan Bangkoor maka aktivitas penambangan galian C semestinya dalam pengawasan intensif oleh pemerintah. Tidak sekedar diberi izin dan dibiarkan melakukan penambangan seenaknya.

Kini dampak yang ditimbulkan dari aktivitas penambangan galian C di DAS Nangagete sudah dirasakan dampak yang merugikan bagi petani. Jika terus dibiarkan maka persawahan di Bangkoor dan Nebe akan terus mengalami gagal tanam dan gagal panen.

Keluhan terkait tingginya sedimentasi lumpur akibat kiriman lumpur dari DAS Nangagete juga disampaikan oleh Kepala Dusun Nebe A, Desa Bangkoor, Antonius.

Ia menuturkan, kurang lebih 1 Km panjang sedimentasi lumpur menyebabkan air yang menuju ke kelompok tani di Desa Bangkoor terhalang.

Lanjut Antonius, tinggi sedimentasi lumpur juga mencapai 2 meter dari kedalaman saluran air 2,5 meter. Dengan tingginya sedimentasi air membuat air menjadi terhalang menuju ke persawahan.

“Ketika petugas membuka air, air yang mengalir terhalang dan tidak bisa mengalir karena tingginya sedimentasi,” ungkapnya.

Dijelaskan Antonius, ada 6 kelompok tani dan 50 petani pengguna air yang tidak bisa menggunakan air secara maksimal karena air yang mengalir terhalang sedimentasi.

Pihaknya sudah berusaha secara manual untuk membersihkan saluran air namun karena sedimentasi tinggi dan memanjang sepanjang 1 Km menyebabkan mereka kesulitan membersihkan.

Ia mengharapkan Dinas PU bisa meminjam excavator untuk membersihkan sedimentasi lumpur yang memanjang sepanjang 1 Km tersebut. (TIM-R2).

 

Bagikan

Komentar

Berita Lainnya