oleh

Remaja dan Vandalisme adalah Tanggung Jawab Kita Bersama

-SOSBUD-1.550 views

Oleh : Henny Blaan

Remaja….Adalah masa transisi seseorang, menuju dewasa. Masa dimana seseorang mencari jati diri. Yah, pada masa ini, seseorang akan mengerahkan seluruh kemampuannya, hanya untuk mendapat pengakuan dari orang lain. Entah itu hal positif atau Negatif, yang penting adalah agar mereka mendapat pujian. Dan berbicara soal remaja, tentu tidak luput dari kenakalan-kenakalan yang mereka ciptakan.

Begitu banyak bentuk tindakan kenakalan remaja, yang melebihi batas wajar. Freesex, merokok, konsumsi miras, tawuran, juga tindakan kriminal lainnya. Dan Vandalisme, juga tidak luput dari bagian kenakalan remaja saat ini. Yup… Vandalisme semakin marak dilakukan kalangan remaja. Seperti yang kita tahu, Vandalisme merupakan tindakan merusak lingkungan.

Perilaku Vandalisme yang umum kita lihat seperti corat-coret di dinding kelas, wc, meja, dinding pertokoan, pagar tembok, rambu lalu lintas, bangunan yang tidak terpakai, bahkan hingga jalan-jalan umum. Beberapa warga masyarakat selalu mengeluhkan tindakan vandalisme ini. Sebagian dari mereka, merupakan pemilik pagar tembok, atau pemilik toko yang pintunya dipenuhi dengan coretan.

Maraknya aksi Vandalisme yang dilakukan ditempat-tempat umum di Kota Maumere. Foto : Henny Blaan

Beberapa dari mereka berpendapat, tindakan Vandalisme ini dikarenakan tidak adanya wadah bagi anak-anak remaja untuk menyalurkan hobby dan bakat mereka. Menjawabi hal tersebut, di sini saya ingin menyampaikan, bahwa saat ini di Maumere sudah ada beberapa komunitas seni yang dibentuk oleh kaum muda.

KPSL (Komunitas Pemuda Sadar Lingkungan) sudah ada sejak tahun 2016, Gurang Garit Art, dan beberapa komunitas seni lainnya. Bahkan saat ini sudah ada Ikatan Pelukis Indonesia (IPI) cabang Sikka. Saya sendiri, adalah pengurus dari KPSL, juga pengurus dari IPI. Dan baik melalui sosial media, juga secara lisan, saya sering mengajak anak-anak remaja, anak-anak muda Maumere untuk ikut bergabung bersama komunitas kami, untuk menyalurkan bakat dan hobby mereka, menjadi sesuatu yang bernilai positif, dan dapat dinikmati banyak orang.

Tetapi kenyataannya, yang ikut bergabung tidak semua anak muda, bahkan yang ikut bergabung malah bukan para pelaku Vandalisme. Dan yang kita lihat, hamper setiap sudut kota Maumere bahkan sampai hari ini masih dipenuhi dengan coretan.

Lalu, apakah tidak adanya wadah menjadi penyebab Vandalisme????? Yang ingin saya tekankan disini adalah, cara kita mungkin salah. Kita ingin atasi tindakan Vandalisme, tanpa mencari tahu terlebih dahulu, apa penyebabnya. Dari sekian puluh pelaku Vandalisme, apakah mereka punya alasan yang sama mengapa mereka melakukannya??? Saya pikir tidak. Dan hal ini yang harus menjadi perhatian penting bagi kita.

Untuk mengatasi masalah, kita harus tahu terlebih dahulu penyebab dari masalah tersebut, agar menemukan solusi yang tepat.

Kita semua tahu, bagaimana seorang remaja akan melakukan apapun untuk mendapat pengakuan. Bagaimana jika tindakan Vandalisme dilakukan hanya untuk mendapat pujian dari teman sebayanya, agar dianggap hebat karena berani mencoret tempat umum? Atau Vandalisme dilakukan oleh seseorang yang merasa punya masalah dalam hidupnya, dan melampiaskan amarahnya dengan aksi corat- coret? Atau Vandalisme dilakukan oleh seseorang yang kurang mendapat perhatian dari orang tua, sehingga melakukan tindakan ini untuk mendapatkan perhatian??? Atau dilakukan oleh seseorang yang ingin dikenal, sehingga mencorat-coret namanya di tempat umum??? Ada begitu banyak penyebab.

Dan kita tidak bisa sepenuhnya menyalahkan mereka. Jika hanya mencaci maki mereka, apakah masalah akan teratasi? Cacian yang mereka terima, justru akan membuat mereka semakin ingin melakukan yang lebih. Lalu, siapakah yang bertanggung jawab untuk menemukan solusinya???? Masalah ini seharusnya menjadi masalah kita bersama.

Yang harus dimiliki oleh para remaja yang paling utama adalah kesadaran untuk menjaga dan menghargai milik orang lain dan menganggapnya seperti milik kita, sehingga tidak akan kita rusak. Lalu di sini, peran orang tua, masyarakat, lembaga pendidikan formal, dan pemerintah, juga harus sejalan. Saya pikir tidak perlu saya paparkan satu per satu apa yang harus dibuat. Cukup masing-masing kita menjalankan peran kita dengan baik jika kita benar-benar ingin Maumere kita bersih, tidak ada coretan di setiap sudut kota.

Dan suatu saat menjadi kota yang indah untuk dikunjungi, dan setiap sudutnya penuh dengan nilai seni, hasil karya anak Nian Tana. Meski saya sendiri kecewa, dengan kurangnya dukungan dari pemerintah terhadap kegiatan yang selalu kami lakukan, tetapi demi mempercantik Maumere kami, kami tidak akan berhenti untuk terus melakukan kegiatan Mural, menutup coretan di tembok-tembok dengan karya kami, dan tidak akan berhenti untuk terus mengajak anak muda Maumere menciptakan sesuatu untuk membuat Maumere kami menjadi Indah

Tabe

Salam Art

Penulis adalah salah pengurus Komunitas Pemuda Sadar Lingkungan (KPSL) dan Ikatan Pelukis Indonesia (IPI) cabang Maumere

Bagikan

Komentar

Berita Lainnya