oleh

Puluhan Perahu Saban Hari Menantang Badai, Mengadu Nasib

-EKBIS-900 views

LARANTUKA, MN- Sebagai Kabupaten kepulauan, warga Flores Timur (Flotim), masih terus mengandalkan perahu motor sebagai alat transportasi penyeberangan. Tidak heran jika saban hari, perairan Selat Solor dan Selat Adonara ramai dilalui perahu  motor berbagai tipe, sebagai jalur perairan teramai di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Salah satu jalur terpendek dan teramai yakni jalur Tanah Merah (Adonara) dengan Pante Palo (Larantuka). Setiap 5 menit, perahu motor dengan kapasitas 3 GT bolak balik mengantarkan penumpang dan barang Larantuka-Adonara pergi pulang.

Elias Diaz, kapten sekaligus pemilik perahu motor, saat ditemui di Pante Palo, Sabtu (1/6/2019) mengaku, jalur Pante Palo ke Tanah Merah merupakan jalur teramai di Flotim, karena terdapat sebanyak 30-an perahu motor yang melayani jalur tersebut.

“Kalau ramai, setiap trip kami mendapatkan uang sebesar 60.000. Sehari kami biasanya sampai 15 kali trip, sehingga penghasilan yang kami dapatkan sehari bisa mencapai 700.000 hingga 800.000,” akunya.

Dia juga menyebutkan, pelayanan jalur ini hanya ditempuh dengan waktu 5 sampai 10 menit saja. Jarak tempuh 5 menit jika kondisi laut tidak bergelombang, tetapi saat kondisi laut bergelombang, waktu yang ditempuh sampai 10 menit.

“Kalau untuk arus, tidak pernah berhenti. Sehingga kita harus atur posisi perahu dengan sempurna agar tidak terjadi laka laut. Selain itu, kita juga menghindar agar gelombang yang menghempas perahu tidak membasahi para penumpang,” jelasnya.

Jalur ini, lanjut dia juga sangat membantu warga Adonara jika ada pasien rujukan yang membutuhkan pertolongan medis dengan cepat.

“Kami melayani jasa transportasi selama 24 jam non stop. Ada juga perahu motor yang disiapkan untuk melayani malam hari,” ujarnya.

Sekedar diketahui, pemerintah pusat telah merancang jembatan penyeberangan di jalur ini untuk mempermudah akses masyarakat dari Adonara ke Larantuka.

“Memang kami dengar sudah ada rencana itu. Tetapi kalau itu dibangun, maka perahu motor kami mungkin tidak akan laku lagi,” katanya dengan nada cemas.

Pantauan wartawan, sudah ada dua buah pelabuhan rakyat yang telah dibangun, namun pelabuhan itu belum difungsikan secara baik, karena hanya dipergunakan pada saat air pasang.

Kegigihan yang diperjuangkan oleh Elias dan puluhan nahkoda lainnya, merupakan bukti bahwa mereka memberikan pelayanan jasa yang prima kepada masyarakat. Mereka menantang badai dan derasnya arus Selat Adonara yang ganas untuk mengais rejeki. Mereka adalah pelaut-pelaut handal, karena nenek moyang kita adalah pelaut.(ANI-R1)

Bagikan

Komentar

Berita Lainnya