oleh

Mengenal Ritual Adat ‘Joka Segu’ di Liakutu Sikka

-SOSBUD-89 views

MAUMERE, MN- Joka Segu, adalah sebuah ritual adat masyarakat Liakutu Kecamatan Mego Kabupaten Sikka, yang diyakini upacara adat ini dapat menolak wabah pandemi covid 19 yang saat ini merebak di seluruh penjuru dunia, termasuk di Nian Tana Sikka.

Pada pelaksanaan upacara adat yang cukup sakral ini, Senin (27/4/2020) dihadiri juga oleh Bupati Sikka, Fransiskus Roberto Diogo, Wakil Rakyat dari Partai NasDem, Frans Bari serta sejumlah pimpinan OPD di lingkungan Pemkab Sikka.

Pantauan wartawan, Joka Segu merupakan ritual persembahan sesajian bagi leluhur yang ditandai dengan doa dalam bahasa adat Sikka.

Usai mengambil makanan dan mimuman, para mosalaki (tua adat) menghampiri arca megalitik yang terbuat dari bebatuan di pinggir sebuah kali kecil.

Beberapa mosalaki menyampaikan doa dalam bahasa adat masing-masing dan sambil mempersembahkan sesajian di atas arca tersebut secara bergantian.

Suasana hening pun terasa di saat para mosalaki ini menyampaikan ujud doa mereka dalam bahasa adat. Tak satu pun yang hadir bersuara, hanya suara para mosalaki terdengar jelas dari kejauhan. Bahkan, suara alam pun sepertinya terasa. Angin yang berhembus sepoi di siang itu dan suara gemericik air sungai, seperti menyatu dengan doa Mosalaki, oh babo mamo, nitu pa’i, tana watu, joga segu lewa sai penyaki o re’e, bere la lewa sai, no’o ae de lau.

Beberapa saat kemudian, para mosalaki dan semua pemangku adat yang hadir dalam kesempatan itu, memberikan penghormatan kepada leluhur, sebagai tanda bahwa manusia tidak melepaskan diri dari lingkungan alam dan tanah tempat mereka berpijak, termasuk juga arwah leluhur.

Frans Bari, salah seorang anak adat dari Kecamatan Mego, dalam keterangannya, mengaku, ritual ini memang selalu dilaksanakan oleh masyarakat adat di Kecamatan Mego untuk menolak bala atau mara bahaya.

“Sebagai anak adat, tentunya kita semua harus menyakininya sebagai sebuah warisan leluhur yang tidak boleh kita tinggalkan. Dari upacara adat ini, kami meyakini bahwa segala malapetaka yang muncul setelah adanya joka segu ini, akan mengalir mengikuti aliran air ke laut dan membebaskan kami dari malapetaka yang bakal muncul,” ujarnya.

Bupati Sikka, Fransiskus Roberto Diogo yang juga hadir dalam kesempatan itu mengatakan, adat dan budaya serta kehidupan masyarakat di Nian Tana Sikka tidak boleh dipisahkan.

“Mereka adalah satu. Untuk itu, upacara adat ini harus dijaga dan dilestarikan, sebagai satu kearifan lokal di tengah modernisasi saat ini. Mari kita tetap jaga seluruh ritual adat, karena adat dan tanah ini akan melindungi kita semua,” tegasnya.

Ritual adat Joka Segu, adalah satu dari sekian banyak ritual adat yang dimiliki oleh masyarakat adat Nian Tana Sikka. Mari saatnya kita lestarikan. Kalau bukan sekarang, kapan lagi dan kalau bukan kita, siapa lagi?(SON-R1)

Bagikan

Komentar

Berita Lainnya