oleh

Kadis Ketahanan Pangan Sebut, Produksi Beras Lokal Tak Mampu Penuhi Kebutuhan Warga Sikka

-SOSBUD-933 views

MAUMERE, MN- Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Sikka, Mauritz da Cunha, menyebutkan, produksi beras lokal di Kabupaten Sikka belum mampu mengimbangi kebutuhan akan beras di wilayah ini. Olehnya, masih banyak pasokan beras yang didatangkan dari luar.

Hal itu diakui da Cunha, saat diwawancarai usai mengikuti kegiatan lomba cipta menu beragam, bergizi seimbang dan aman, yang berlangsung di Aula Dinas Pertanian Sikka, Selasa (2/7/2019).

“Kita ada beberapa sentra produksi beras kita, seperti wilayah Magepanda, Nebe, Waigete, Mego dan ada beberapa sentra produksi lainnya, tetapi kalau kita hitung dengan jumlah kebutuhan masyarakat di wilayah sebanyak 315.000 jiwa, maka hal itu tidak mencukupi. Sehingga dari luar masih masuk. Sehingga yang kita galakan sekarang yakni jagung, sorgun, umbi-umbian dan kacang-kacangan untuk memenuhi kebutuhan makanan masyarakat,” terangnya.

Dalam keterangannya, dia pun mengakui, bergesernya budaya masyarakat yang mengkonsumsi beras ketimbang mengkonsumsi makanan lokal seperti jagung, sorgun dan lain-lain.

“Jadi sejak adanya swasembada pangan tahun 80-an, masyarakat kita sudah terbiasa dengan mengkonsumsi beras. Untuk itu, saat ini ketika kita mau merubah budaya konsumtif masyarakat, menjadi sebuah tantangan baru bagi pemerintahan saat ini, meski kita juga tak pernah henti-hentinya mengkampanyekan untuk kembali mengkonsumsi makanan lokal,” akunya.

Disinggung soal selain sorgun, produk pertanian apa yang bisa dikembangkan di Kabupaten Sikka, kata dia, banyak produksi pertanian yang sudah dikembangkan, diantaranya, pengembangan jagung, umbi-umbian dan beberapa jenis tanaman local lainnya.

“Sekarang kita menunggu niat baik masyarakat. Artinya pendampingan itu sudah kita lakukan dengan melakukan kampanye hingga ke kecamatan-kecamatan,” akunya lagi.

Disinggung soal pengembangan pertanian itu masih terbentur dengan ketersediaan anggaran yang dimiliki oleh daerah, lalu apakah ada bantuan dari pemerintah pusat, kata dia, beberapa tahun terakhir ada bantuan dari pemerintah pusat melalui 12 kelompok petani yang ada 12 desa.

“Untuk 12 desa itu tahun 2019 ini, sebelumnya sebanyak 5 kelompok. Namun tahun depan, kita hanya dapat 2 kelompok saja. Kita juga kembangkan yang namanya, kawasan rumah pangan lestari, artinya tanaman pangan dikembangkan oleh masyarakat dengan memanfaatkan pekarangan rumah.  Kita berharap, program ini bisa berkelanjutan, sehingga bisa memenuhi kebutuhan masyarakat di daerah ini, sekaligus meningkatkan ekonomi masyarakat petani,” harapnya.(SON-R1)

 

Bagikan

Komentar

Berita Lainnya