oleh

Hari Ini, Umat Katolik Terima Abu, Awal Pra Paskah 2021

-SOSBUD-18 views

MAUMERE, MN- Rabu (16/2) adalah hari Rabu Abu bagi umat Katolik di dunia. Rabu Abu merupakan hari pertama masa Pra-Paskah dalam liturgi tahun Gereja.

Selain ditandai dengan penerimaan abu di dahi sebagai tanda pertobatan, Rabu Abu juga merupakan hari pertama puasa dan pantang.

Di tahun ini Anda tak akan mendengar pastor atau prodiakon menandai dahi umat dengan abu sambil berkata:

“Bertobatlah dan percayalah pada Injil’ atau ‘Ingatlah bahwa kami adalah abu dan akan kembali menjadi abu.’

Meski tahun ini Rabu Abu sedikit berbeda, itu sama sekali tidak mengurangi maknanya.

Sementara itu, bagi umat yang memilih untuk tidak menghadiri misa Rabu Abu di gereja, umat dipersilakan untuk tetap menghadiri misa secara online dengan khidmat dan tidak perlu menerima penaburan abu secara langsung.

Hal ini akan menjadi tradisi yang baru di Indonesia. Sebab selama ini umat Katolik di Indonesia selalu menerima abu dengan bentuk tanda salib di dahi. Baru pada tahun ini, umat tidak akan mendapat penanda abu di dahi setelah mengikuti misa Rabu Abu.

Bahkan umat masih dapat merasakan pemberian abu di dahi saat misa Rabu Abu tahun lalu meskipun mereka merayakan Paskah secara online. Mengingat Indonesia baru mengalami pandemi sejak awal Maret 2020, alias di tengah-tengah masa Prapaskah.

Namun hal ini bukanlah masalah besar. Sebab memang Gereja Katolik mengizinkan dua cara pemberian abu dalam liturgi Rabu Abu. Cara pertama adalah pengolesan abu di dahi, seperti tradisi di Indonesia. Cara kedua yaitu penaburan abu di atas kepala, kebiasaan yang lazim dilakukan di Roma. Sehingga tatacara ini bukanlah tatacara yang baru dikreasi akibat adanya pandemi.

Vatikan juga merilis panduan Rabu Abu 2021 selama masa pandemi. Dalam catatan juga memberikan arahan bagi para imam agar membersihkan tangan, mengenakan masker dan membagikan abu pada mereka yang datang menghampiri atau jika perlu pada mendatangi umat yang berdiri di tempat mereka masing-masing.

“Imam mengambil abu itu dan memercikkannya di kepala masing-masing (umat) tanpa mengatakan apa-apa,” tulis catatan itu.(MAR-R1)

Bagikan

Komentar

Berita Lainnya