oleh

Dituduh saat Demo, Kepala Desa Lela-Sikka Tenang Menjawab, Ini Klarifikasinya!

-METRO-1.928 views

MAUMERE, MN- Kepala Desa Lela Kabupaten Sikka, Frans Baba Djoedye, akhirnya angkat bicara saat dikonfirmasi kembali sejumlah wartawan Maumere, Rabu (13/5/2020).

Dengan nada tenang, Kepala Desa Lela akhirnya memberikan klarifikasi terkait dengan tuduhan yang disampaikan warganya saat aksi demo sekitar pukul 10.30 WITA di kantor Bupati Sikka, Rabu (13/5/2020).

“Benar, saya sendiri merasa prihatin atas aksi warga saya yang langsung bertemu dengan Pak Bupati di Maumere. Terus terang, sejak persoalan ini muncul, saya langsung menilai, hal ini lebih dikarenakan oleh adanya balutan kepentingan segelintir orang yang bersembunyi di balik masyarakat saya. Terus terang, saya sudah minta mereka untuk datang ke kantor desa, biar kita jelaskan. Namun, mereka tidak pernah datang. Saya bilang, kantor desa ini buka 1 kali 24 jam, silakan datang kalau merasa ada yang tidak beres,” ujarnya dengan penuh sesal.

Meski demikian, dia mengaku, dirinya langsung koordinasi dengan Camat Lela dan Camat menyarankan, agar mereka nanti urusan dengan desa di kantor desa.

“Yang disampaikan oleh mereka itu, yang saya laksanakan selama ini. Tidak pernah kami sembunyikan, semuanya dilakukan secara transparan, namun karena terbalut kepentingan tadi. Untuk itu, saya akan undang lagi mereka untuk klarifikasi di kantor desa, jika mereka menghendakinya,” sebutnya lagi.

Dia mengatakan, persoalan ini sebenarnya berawal dari adanya isu soal dana desa tidak bisa dicairkan, padahalnya, tidak seperti itu.

“Hari ini kita laksanakan konsultasi terakhir di tingkat kecamatan dan saya sendiri langsung berkomunikasi dengan Pak Camat. Jadi tidak benar, bahwa saya melawan pemerintahan di atasnya. Dan dana tersebut akan dicairkan dalam waktu dekat, paling tidak besok sudah bisa dicairkan,” tegasnya.

Disinggung soal adanya dana sisa lebih perhitungan anggaran (SiLPA) tahun 2019 lalu sebesar Rp. 3 miliar, kata dia, dana SiLPA itu memang ada, tetapi tidak sebesar itu.

“Saya bilang, sebaiknya datang dan sampaikan keluh kesah mereka, sampaikan biar kita bisa sama-sama cari solusinya. Ini kepala desa di depan mata, tetapi tidak mau datang, malah harus ke Bupati. Kalau memang Bupati memanggil saya, yah saya harus siap sebagai bawahan untuk memberikan klarifikasi ini,” tegasnya lagi.

Disinggung soal dirinya tidak peduli terhadap penanganan covid di desanya, kata dia, penanganan covid 19 telah dilakukan pihaknya selama ini.

“Tidak ada alasan, untuk tidak melakukan penanganan terhadap pandemi covid 19. Dalam Peraturan Menteri Desa nomor 8 tahun 2020, dan juga ditegaskan kembali melalui Peraturan bupati Sikka, agar desa-desa yang memiliki silpa fisik tahun sebelumnya, PKPDnya, agar dicairkan untuk membantu penanganan covid 19 di desanya masing-masing. Penanganan covid, bukannya kita tidak laksanakan, tetapi kita lakukan sejak dari awal. Tidak benar, jika kita diam, karena kita bekerja sesuai dengan aturannya, karena tidak bisa sembarang ikut kemauan masyarakat,” ujarnya lagi.

Di akhir keterangannya, dia mengatakan, dirinya merasa sangat prihatin karena sebagai pejabat publik dihakimi sepihak oleh warganya, saat melakukan aksi demo tersebut, tanpa meminta seperti apa klarifikasi dari kepala desa.(MAR-R1)

 

 

 

 

 

 

Bagikan

Komentar

Berita Lainnya