oleh

Di Sikka: Saat Mencari Kayu Api, Kegadisan Anak Dibawah Umur Ini Direnggut JLW

-HUKRIM-1.003 views

MAUMERE, MN- Sebanyak 13 pengacara di Kota Maumere yang tergabung dalam Tim Advokasi Hukum dan Kemanusiaan, melayangkan gugatan mereka ke Pengadilan Negeri Maumere.

Tak tanggung-tanggung, para pengacara tersebut menggugat Kapolres Sikka dan Kapolri dengan gugatan bernomor Register: 134/Sk/PDT/9/2020/PN. Mme, tertanggal 21 September 2020.

Dalam press release yang diterima www.maumerenews.com, para advokat ini merincikan kejadian yang menimpa seorang anak dibawah umur, di Desa Wolorega, Kecamatan Paga, Kabupaten Sikka, pada 23 April 2016 silam, hingga kegadisannya direnggut oleh JLW, seorang warga di desa yang sama.

Awal kejadian tersebut bermula dari, anak dibawah umur tersebut saat itu tengah duduk di bangku kelas VI SD di desa tersebut.

Pada tanggal 23 April 2016, sekitar pukul 16.00 WITA, hendak mencari kayu api di kebun ayahnya yang terletak di Desa Wolorega, Kecamatan Paga, Kabupaten Sikka yang berjarak sekitar ± 150 M dari rumahnya

Setibanya di kebun milik ayahnya, tiba-tiba korban dipanggil oleh pelaku JLW, yang saat itu sedang berada di sebelah kebun milik pelaku. Pelaku pun akhirnya mendatangi korban dan menawarkan uang sebesar Rp. 50.000, namun tawaran itu ditolak oleh korban.

Upaya terus dilakukan oleh JLW untuk mendekati korban, namun korban terus menghindar dan akhirnya korban mengambil langkah seribu.

Karena letak gerografis dari kebun itu miring dan belukar, sehingga korban tidak mampu menghindar dan pelaku langsung menangkapnya dengan kasar dan memeluknya.

Pelaku pun akhirnya tak menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Meski sempat ada perlawanan dari korban, namun tenaga pelaku yang sudah dirasuki setan memaksa korban untuk memenuhi nasfu bejatnya. Dan adegan layak sensor itu pun tak bisa dihindari.

Usai melampiaskan nafsu bejatnya, pelaku sempat mengancam korban untuk tidak boleh memberitahu kejadian tersebut kepada orang lain, jika tidak pelaku akan membunuhnya.

Akibatnya, korban ketakutan dan pelaku pergi meninggalkan korban seorang diri di tengah hutan.

Atas kejadian tersebut, korban pun akhirnya berlari dan menangis memberitahukan hal yang menimpa dirinya kepada orangtuanya. Korban pun akhirnya jatuh pingsan setelah menyampaikan perihal itu.

Atas kejadian tersebut, Ayah korban langsung mendatangi Polsek Paga untuk melaporkan kejadian tersebut sebagaimana bukti Laporan Polisi No. LP : 22/IV/2016/NTT/Res. Sikka/Sek. Paga, kemudian menyerahkan barang bukti berupa pakaian yang dikenakan korban saat kejadian.

Atas laporan tersebut, pelaku akhirnya ditahan selama 3  minggu terhitung sejak tanggal 24 April 2016 di Polsek Paga, namun setelahnya polisi di Polsek Paga mengeluarkan pelaku tanpa alasan yang sah menurut hukum.

Usai bebas, pelaku juga sempat melakukan intimidasi, ancaman dan terror terhadap korban dan keluarganya.(MAR-R1)

Bagikan

Komentar

Berita Lainnya