oleh

Bupati Idong Akui Perikanan di Selatan Sikka Belum Dikembangkan Optimal

-SOSBUD-761 views

MAUMERE, MN- Bupati Sikka, Fransiskus Roberto Diogo, mengaku, jika pengembangan perikanan di Kabupaten Sikka, belum dikembangkan secara optimal, khususnya di wilayah pantai selatan Sikka. Sementara untuk wilayah pantai utara, pemerintah daerah sudah melakukan pengembangan selama beberapa tahun terakhir.

Hal itu disampaikan Bupati Idong, saat menjawab pertanyaan wartawan terkait dengan pengembangan sektor perikanan di wilayah Kabupaten Sikka, usai membuka dengan resmi kegiatan lomba cipta menu beragam, bergizi seimbang dan aman, yang berlangsung di Aula Dinas Pertanian Sikka, Selasa (2/7/2019).

Lambannya pengembangan sektor perikanan di wilayah selatan Sikka, lebih disebabkan karena kondisi geografis yang belum memberikan nilai plus bagi peningkatan sektor ini.

Meski demikian, Orang Nomor Satu di Kabupaten ini, lebih lanjut mengatakan, di kabupaten yang dipimpinnya, sesuai data yang dimiliki, sudah sebanyak 5.085 kepala keluarga nelayan.

“Potensi ini merupakan potensi besar bagi hasil tangkapan di wilayah ini. Jumlah nelayan yang cukup besar itu juga, telah menempatkan Sikka pada posisi pertama dengan jumlah nelayan terbanyak di NTT. Memang kita akui, jumlah tangkapan kita belum mampu mengimbangi tingkat konsumsi masyarakat di Sikka maupun di luar Sikka. Sehingga upaya-upaya terobosan tentunya mesti terus dilakukan oleh Dinas Perikanan ke depannya,” kata dia.

Untuk mendapatkan hasil tangkap yang maksimal, lanjut Bupati, Sikka memiliki potensi terumbu karang yang sangat luas, baik di pantai utara maupun di pantai selatan.

“Kita akan terus berbenah untuk mengembangkan sektor ini, sehingga potensi yang kita miliki ini bisa menjadi sentra produksi, khususnya ikan tangkap agar bisa dikirim ke beberapa kabupaten lainnya di Flores,” harapnya.

Terkait dengan pengembangan sektor perikanan yang belum optimal dilakukan, Heni Doing, wakil Partai Demokrat di DPRD Sikka, menyebutkan, selama ini pemerintah masih sebatas menyiapkan alat tangkap untuk nelayan.

“Kalau saya melihat belum ada program spektakuler yang dilakukan oleh pemerintah. Salah satu contohnya yakni belum ada niat baik pemerintah untuk mengembangkan perikanan darat. Sebenarnya, ini juga bisa menjawab kebutuhan masyarakat di Sikka untuk konsumsi ikan,” sebutnya.

Disinggung soal besarnya anggaran khusus untuk sektor perikanan, kata dia, mestinya dilakukan dengan program yang berkelanjutan.

“Artinya ketika hasil tangkap nelayan itu cukup banyak, penyediaan pasar dan sarana prasarana pendukungnya mesti terus dikembangkan. Selama ini, kita hanya berkutat pada alat tangkap nelayan dan perijinan saja, sehingga belum memberikan impact bagi penerimaan daerah,” tegasnya.

Catatan media ini, meski jumlah produksi nelayan di Sikka cukup banyak, namun, strategi pasar seperti mendatangkan investor perusahaan ikan ke Sikka masih belum dilakukan secara baik.

Jumlah perusahaan ikan di Sikka pun baru satu, sehingga sejumlah nelayan melemparkan produksi mereka ke beberapa pengecer yang menjualnya hingga ke Labuan Bajo dan Sumba. Selain itu, harga beli ikan dari perusahaan yang sangat rendah, mengurungkan niat para nelayan menjualnya ke perusahaan.(SON-R1)

Bagikan

Komentar

Berita Lainnya