oleh

Tua Reta Loù, Taktik Mengintai Musuh ala Orang Hewokloang

-SOSBUD-341 views

Oleh, Roby Kristian

Tua reta loù adalah salah satu tarian tradisional yang berasal dari kampung Hewokloang –Seusina raya, meliputi kampung Hewokloang, He’o, dan Kewa — Kabupaten Sikka.

Tarian ini melambangkan jiwa ksatria dan mental pahlawan masyarakat “Hewokloang kuno”. Tarian ini umumnya dibawakan oleh penari pria dan wanita dengan mengenakan busana perang ala orang Hewokloang –busana ragi gaing–.

Diantara sekian banyaknya penari, ada satu orang penari pria yang dinilai paling kuat fisiknya dan dianggap paling “jago” untuk memanjat dan merebahkan dirinya diatas bambu dengan ukuran tingginya tujuh sampai Sembilan ruas. Tarian ini biasanya dipentaskan oleh orang Hewokloang dalam berbagai acara adat kematian, maupun festival kebudayaan.

Tarian ini awalnya dipentaskan oleh masyarakat tana uta Hewokloang, khususnya panglima perang dan para prajurutnya setelah pulang dari medan pertempuran. Berdasarkan sejarah lisan yang dituturkan, Hewokloang pada zaman dahulu sering berperang dengan suku/kampung tetangga. Perang yang sangat terkenal dan masih menjadi cerita turun temurun adalah nuhu Rohe (perang dengan orang dari kampung Rohe).

Setiap pulang dari medan perang, masyarakat Hewokloang merayakan kemenangan, artinya mereka bangga karena telah berhasil melumpuhkan kekuatan lawan.

Awal mulanya tua reta loù dipertunjukan ketika para ksatria dan panglima perang kembali dari medan pertempuran. Karena saking bahagianya kemenangan itupun dirayakan dengan pesta pora “blebuk-gewong”, yang artinya kemeriahan pesta dengan musik dan tarian. Salah seorang prajurit perang secara spontan mendemonstrasikan segala macam gaya gerak dan taktik saat mereka berhadapan langsung dengan musuh dimedan perang.

Tarian tua reta lou menjadi gambaran singkat dimana seorang prajurit yang paling tangguh mempertontonkan kepada rakyat cara untuk mengintai musuh dari atas ketinggian. Pada intinya, bambu menjadi salah satu properti paling penting dalam tarian karena bambu menggambarkan tempat yang tinggi.

Ilustrasi singkat pun dilakukan, mereka membayangkan segala macam situasi yang mereka alami ketika bergulat dengan musuh di area peperangan. Ketika mereka berada dalam medan pertempuran, para prajurit ini biasanya naik keatas pohon yang sangat tinggi, tidak bercabang dan susah dijangkau oleh lawan.

Tujuannya naik keatas pohon, sebagai tempat persembunyian juga sebagai tempat untuk memantau pergerakan lawan. Diatas pohon mereka dapat melihat kesegala sisi. Ketika ada musuh yang mendekat atau berjalan kearah mereka, mereka dengan sigap mempersiapkan peralatan perangnya. Tak jarang pula, musuh datang mendekat bahkan persis berdiri dibawah pohon. Hal ini tentunya menjadi kesempatan emas bagi prajurit Hewokloang yang saat itu haus akan darah, mereka dengan secepat kilat menarik busurnya, diarahkan kesasaran, anak panah pun dihempas dengan bidikan mengenai target.

Menjadi suatu kebanggan yang sangat luar biasa apabila sang lawan tewas ditempat, lantas sang prajurit Hewokloang pun dengan perkasa meneriakan semboyan kesaktiannya. “Aù oa ‘etan inu mein, oa atang inu Klirang”, yang berarti aku menyantap dagingmu, aku meneguk darahmu, akan kujadikan ini kisahku dan kubawakan dalam sejarah untuk anak cucuku.

Ketika perang berakhir para prajurit pun pulang ke kampung Hewokloang, mereka tak segan membawa serta beberapa organ tubuh penting dari sang lawan yang telah tewas ditangannya. Organ tubuh lawan yang mereka bawa pulang akan menjadi bukti bahwa mereka berhasil menewaskan salah satu dari sekian banyak lawan yang mereka hadapi.

 

Bagikan

Komentar

Berita Lainnya