oleh

Puncak Kemarau Panjang: Krisis Air Bersih Mulai Landa Sikka

-SOSBUD-233 views

MAUMERE, MN- Kemarau panjang yang melanda wilayah Kabupaten Sikka sejak April lalu, menyebabkan sejumlah sumber mata air di wilayah ini menjadi kering. Debit air yang semulanya besar dan mencukupi kebutuhan warga, sejak Juni lalu mulai berkurang.

Hal itu menyebabkan sebagian besar warga di Sikka harus mencari alternatif sumber mata air lain untuk memenuhi kebutuhan air bersih mereka.

Salah satu wilayah terparah dari dampak kemarau itu yakni Desa Wairbleler, Kecamatan Waigete Kabupaten Sikka. Ratusan warga di desa ini terpaksa mengkonsumsi air yang tidak layak untuk kebutuhan mereka. Kondisi air berbau dan tidak jernih.

Pantauan Maumere News, meski tidak layak konsumsi, namun ratusan warga di desa itu rela berjalan kaki untuk mengantri mendapatkan air minum. Bukan hanya itu, untuk mendapatkan 20 liter air, mereka harus menunggu giliran hingga 4 jam lamanya.

Yosefina Nona Lehan, salah seorang warga Wairbleler dalam keterangannya kepada sejumlah awak media mengatakan, selain sulitnya mendapat air bersih, mereka juga harus berjalan kaki sejauh 2 hingga 3 km jaraknya untuk mencapai sumber mata air.

Dia mengatakan, air yang mereka ambil dari mata air tersebut harus diolah lagi dengan cara mendiamkannya hingga beberapa jam lamanya untuk memisahkan keruhnya. Selain itu, mereka juga harus menyaring air dengan memggunakan kain penyaring sebelum air tersebut dimasak.

“Orang bilang memang ini tidak layak, tetapi mau ke mana lagi kami harus mencari air? Sumber air ini pun hanya bisa kami gunakan untuk minum, sementara mandi dan cuci jarang kami gunakan,” ujarnya.

Warga lainnya, Hilarius Pare juga mengaku jika, sejak sebulan terakhir di puncak kemarau ini sebagian besar warga rela tidur dekat mata air untuk mendapatkan jatah air.

“Terus terang pak, kami tidak punya pilihan lain selain sumber ini. Memang ada bantuan tangki air dari Pemda, namun kami harus mengeluarkan uang hingga 200 ribu untuk membeli air dari mobil tangki. Bagi kami uang 200 ribu itu sangat susah kami dapatkan. Kami hanya berharap adanya sumur bor, namun asa itu layaknya bertepuk sebelah tangan karena hingga saat ini belum ada,” akunya.

Sulitnya warga Sikka mendapatkan air bersih di puncak kemarau panjang ini merupakan potret belum optimalnya perhatian pemerintah terhadap hak-hak dasar masyarakat yang saat ini gencar didorong oleh Bupati Sikka, Fransiskus Roberto Diogo.

Warga pun sangat berharap agar, di APBD 2020 mendatang, mereka juga mendapatkan alokasi dana penyediaan air bersih bagi mereka khususnya di Desa Wairbleler Kecamatan Waigete Sikka.(MAR-R1)

Bagikan

Komentar

Berita Lainnya