oleh

Mengintip ‘Pase Pedo Mula Gelu’, Ritual Sakral di Rega Puu Sikka

MAUMERE, MN- Suasana Desa Persiapan Rega Puu tidak seperti biasanya di hari-hari sebelumnya. Nuansa penuh kekeluargaan nampak dari hiruk pikuknya warga Desa Wolo Rega yang terletak di Kecamatan Paga Kabupaten Sikka.

Siang itu, matahari bagai menyengat bumi. Rega Puu kawasan di lereng perbukitan itu, tengah dilansungkannya acara pengukuhan adat Mosa Laki Ria Bewa.

Tua-tua adat duduk bersama di atas tikar adat, pemangku kepentingan pun turut hadir dalam ritual itu.

Bupati Sikka, Fransiskus Roberto Diogo, Anggota DPRD Sikka, Dicky Raja, para pimpinan OPD di lingkup Pemkab Sikka dan semua undangan turut  hadir dalam ritual tersebut.

Pase Pedo Mula Gelu, merupkan ritual pergantian tua adat atau mosa laki, yang didahului dengan sejumlah ritual adat.

Saat ritual adat berlangsung, para Mosa Laki menyediakan sesajian dan memberi makan kepada leluhur. Di atas Musu Mase (tempat penyajian terhadap leluhur), mereka duduk sambil berdoa. Ada ucapan adat yang disampaikan. Dari tempat itu pula, pengukuhan pun mulai dilaksanakan.

Sunyi seketika tua-tua adat mulai angkat bicara dalam bahasa Lio. Beberapa diantaranya, yakni soal persembahan terhadap alam dan leluhur.

Angin sepoi-sepoi yang bertiup di siang itu, sepertinya menandakan alam dan leluhur tengah merestuinya. Selain persembahan kepada leluhur, tetapi juga mereka membicarakan soal pembagian kuasa dan wilayah adat.

Musu Mase itu pun dipenuhi oleh warga Dusun Rega Puu Desa Wolo Rega. Sementara, yang duduk di atas Musu Mase adalah mereka yang berkedudukan.

Musu Mase, selama ini dijadikan oleh warga masyarakat adat di Desa Wolo Rega untuk menyelesaikan semua masalah dalam kampung.

Pengukuhan Ratu Raja Ria Bewa Pake Pela, Philipus Wale Wero, pun akhirnya berlangsung.

Ritual sakral yang merupakan kearifan lokal ini, semoga tetap dipertahankan untuk menjadikannya sebagai warisan budaya masyarakat adat di Paga Sikka.

Usai pengukuhan dan ritual adat, acara dilanjutkan dengan acar ceremonial adat lainnya.

Bernadus Say, dalam seorang tokoh adat Desa Wolo Rega, dalam kesempatan itu, meminta Bupati Sikka dan jajarannya, jangan hanya mengunjungi Waiwalu Ana Kalo atau masyarakat kecil pada kesempatan seperti ini saja, tetapi harus dilakukan secara kontinyu untuk mendengar keluh dan kesah Waiwalu Ana Kalo.

Di depan Bupati, Bernadus Say juga meminta agar pemerintah dapat memperhatikan jaringan listrik untuk wilayah tersebut.(SON-R1)

Bagikan

Komentar

Berita Lainnya