oleh

Kisah Pilu Pasutri di Sikka, Patah Kaki Saat Isteri Hamil 8 Bulan

-SOSBUD-656 views

MAUMERE, MN – Setiap manusia tentunya ingin hidup normal dan bahagia dengan anggota badan yang utuh agar dapat beraktifitas memenuhi kebutuhan hidupnya. Namun, setiap manusia tidak dapat memprediksi setiap musibah yang bakal terjadi didalam kehidupannya.

Tentunya hidup dengan anggota badan yang tidak utuh adalah hal yang tidak diinginkan oleh semua orang.

Inilah yang dirasakan pasangan suami isteri, Guido Fan Areso (39) dan Yoventa Tibu (35), warga Dusun Ahu Wair, Desa Nanga Tobong, Kecamatan Waigete, Kabupaten Sikka.

Pasangan suami isteri ini mengalami kecelakaan lalu lintas pada 23 Januari 2019 lalu di Ende, Kabupaten Ende, Flores, NTT yang menyebabkan pasutri ini mengalami patah tulang serius dan hingga kini tidak dapat beraktifitas layaknya manusia normal lainnya.

Bukan hanya itu, sejak Juli 2019, kedua pasutri ini tinggal disebuah gubuk reot, peninggalan orang tua sang suami di Dusun Ahu Wair, Desa Nanga Tobong, Kecamatan Waigete, Kabupaten Sikka.

Hingga saat ini, keduanya tidak mampu membiayai pengobatan ke rumah sakit karena kendala biaya. Akibatnya, kaki kedua pasutri tersebut belum bisa bergerak. Untuk bisa berdiri, keduanya harus menggunakan bantuan tongkat.

Kisah pilu tersebut berawal ketika, pasangan suami isteri malang tersebut mengalami kecelakaan lalu lintas saat mengendarai motor di Kabupaten Ende pada Januari lalu.

“Kaki saya dan isteri patah saat ditabrak mobil di Ende. Kami sempat berobat di RSUD Ende tapi tidak lama. Saat sadar, kami langsung keluar rumah sakit dan langsung dibawa pulang ke Maumere,” ungkap Guido pada Sabtu (06/07/19).

Dengan raut wajah sedih, Guido mengatakan, dirinya dan isteri belum bisa beraktfitas normal seperti sebelumnya karena kaki keduanya belum bisa bergerak.

“Untuk makan saja kami harus tunggu belas kasihan dari tetangga. Ada yang datang bawa beras, minyak goring, ikan dan sayur kesini. Ada yang rela sambungkan listrik kesini dengan gratis. Air juga kami dapat dari tetangga. Mereka tahu kami tidak bisa buat apa-apa. Kalau tetangga tidak ada, kami sekeluarga bisa mati kelaparan,” ungkap Guido.

“Rumah ini tidak ada yang tinggal selama puluhan tahun. Tidak ada perlengkapan jadi kami terpaksa tidur di lantai tanah dengan alas seadanya,” tutur Guido.

Lebih menyedihkan lagi, dalam kondisi yang serba sulit, ternyata sang istri tercinta tengah mengandung buah hati kedua pasutri tersebut yang usia kehamilannya memasuki bulan kedepalan.

“Sedih sekali. Saya tidak bisa omong apa-apa lagi. Musibah ini datang saat isteri saya lagi hamil. Sekarang, kami pasrah kepada Tuhan. Semoga isteri saya baik-baik saja sampai melahirkan nanti,” ungkap Guido sambil meneteskan air matanya.

Akibat dari kecelakaan tersebut, kedua anaknya jadi terlantar. Anak laki-laki pertama terpaksa putus sekolah dan anak kedua yang adalah seorang perempuan terancam tidak bisa melanjutkan pendidikan ke sekolah dasar..

“Untuk makan saja kami harus menunggu belas kasihan dari tetangga, bagaimana kami mau sekolahkan anak,” tambah Guido.

Dihadapan awak media, Guido berharap bisa membantu agar bisa ada orang lain yang tergerak hatinya untuk membantu keadaan keluarga malang tersebut.

“Kami ingin sembuh, tapi kami tidak ada uang untuk berobat. Tolong bantu kami dari penderitaan ini. Kami tidak tahu harus berbuat apa sekarang,” sambunnya.

Salah seorang tetangga korban, Kumis Tattois mengungkapkan, kondisi keluarga Guido beberapa bulan terakhir sangat memprihatinkan.

“Prihatin sekali melihat kondisi keluarga ini. Warga sekitar sini selalu membantu mereka. Kalau ada acara, kami selalu siapkan makanan untuk mereka. Kadang kami sumbang beras. Kemarin juga Kodim 1603 Sikka sumbang pakian buat mereka. Dari pemerintah desa disini sumbang 1 karung beras,” tutur Kumis.

“Saya harap teman media bisa tulis tentang kondisi keluarga ini. Dengan begitu pasti banyak yang baca dan tergerak hatinya untuk membantu mereka. Tolong bantu mereka supaya bisa keluar dari penderitaan mereka,” tambahnya.

Pantauan media ini, rumah yang ditempati Guido dan isteri beserta kedua anaknya hanya berukuran 5 x 5 m2 dengan dinding anyaman bambu yang sudah berlubang, berlantaikan tanah dan atap seng yang sudah termakan usia dan bolong dibeberapa tempat. (ACQ-R2)

 

Bagikan

Komentar

Berita Lainnya