oleh

Kenangan Abadi Bersama Om Ege

-METRO-305 views

Oleh: Makawaru da Cunha *

MENDAPAT berita kepergian Egenius Paseli da Gomez ke alam baka, yang segera saya ingat adalah tulisannya yang kritis, tegas dan pedis. Gaya tulisannya khas mengkritik mereka yang sedang  berkuasa. Namun tetap menghibur dan memberi edukasi sekaligus advokasi untuk masyarakat, terutama wong cilik.

Saya mengenal Egenius Paseli da Gomez atau EP da Gomez sejak masih bocah di Maumere sekitar 1976 silam. Om Ege demikian saya menyapanya.

Ada tiga kenangan abadi bersama Om Ege. Pertama, saya ikut kampanye PDI (Partai Demokrasi Indonesia) menjelang Pemilu 1977. Waktu itu hanya ada 3 partai yang ikut Pemilu  PPP, Golkar dan PDI.  

PDI menerjunkan orator terbaiknya  Om Ege. Kampanye digelar di sejumlah titik di Kabupaten Sikka, PDI ironisnya hanya dihadiri segelintir orang, karena waktu itu Orde Baru (Orba) sangat berkuasa, sewenang-wenang dan pro Golkar.

Kepala Desa diancam dipecat, Polri ditekan jika memberi izin kampanye untuk PDI. Masyarakat seakan takut untuk hadir setiap kampanye partai berlambang kepala banteng ini.

Di Lapangan Bola Nelle yang adalah markas pohon beringin, PDI tak diizinkan untuk kampanye. Pada saat bersamaan tokoh-tokoh masyarakat setempat diarahkan ikut  kegiatan yang lain.

Jadilah kampanye PDI kosong- melompong tanpa massa, panggung, meja kursi dan tari-tarian rakyat. Om Ege terpaksa dibopong naik ke atas atap mobil dan mulai berorasi menggunakan pengeras suara.

Om Ege dengan suara lantang mengutip kata –kata tokoh proklamator Bung Karno hari ini kita ditindas, tapi perjuangan tak akan pernah sirna selama manusia masih menginjakan kaki di bumi ini.   

Kedua, Om Ege minta saya mengantarnya ke Pantai Waiterang.

Saya menyetir mobil Kijang putih dan Om Ege duduk disamping. Om Ege membawa sejumlah buku yang hendak dibacanya ketika tiba di Waiterang.

Ternyata Om Ege punya sebuah bungalow kecil dan  sederhana didominasi dinding bambu beratap daun kelapa. Bungalow tersebut ia kerjasama dengan seorang turis manca negara.

Siang itu Om Ege duduk di kursi sambil membaca buku berjam-jam. Kadang -kadang juga Kompas, Intisari  dan Tempo. Saya menikmati deburan ombak dan bermain-main di pasir putih.  

Selesai membaca Om Ege mengajak saya kembali ke Maumere, tapi kami singgah di rumah ayahandanya di kompleks  Wodong Gerejati di Dusun Wodong. Tak jauh dari Wairterang. 

Om Ege menyapa kerabatnya. Lalu kami melanjutkan perjalanan ke Maumere.

Saya akhirnya paham Om Ege tak pernah melewatkan waktunya untuk membaca. Sesuatu yang sulit  saya temui pada generasi milenium saat ini. Membaca seakan vitamin bagi Om Ege.

Ketiga, saat saya bekerja di Harian Surya Flores di Maumere sekitar 1991, Om Ege memanggil saya. Saya dengan senang hati datang bertemu Om Ege. Om Ege menyerahkan sebuah opini untuk diterbitkan di Surya Flores.

Tapi Om Ege menyampaikan kau boleh muat tulisan saya, tapi jangan ubah kalimatnya. Saya ikut pesan Om Ege.

Tiba di Kantor Redaksi Surya Flores di Wairklau saya langsung hidupkan komputer dan mengetik ulang opini Om Ege.

Keesokan harinya opini sudah terbit. Saya antar langsung Surya Flores Om Ege. Dia  begitu senang dan bangga.

Saya juga jadi perpanjangan tangan ayahanda saya Ignas da Cunha dan Om Ege.

Ayahanda dan Om Ege bekerja satu kantor di Yayasan Karya Sosial (YKS) Maumere di Gedung Panti Wini sekarang Kompleks Gereja Santo Thomas Morus.

Jika ada urusan penting dan mendadak ayahanda minta saya bertemu dan menyampaikan langsung kepada Om Ege. Ayahanda selalu menitipkan satu bundel Kompas, Intisari dan Tempo untuk Om Ege. Pada sore hari sia-sia, jika ingin bertemu  Om Ege di rumahnya di Kampung Bajawa, Kelurahan Beru.

Sebab, Om Ege jika tak ada tugas kantor biasa istirahat di bale-bale di Kompleks rumah Bapak Frans Seda.

Rumah mantan Menteri Kehutanan era Presiden Soekarno kebetulan hanya selemparan batu dari rumah Om Ege. Disitu Om Ege menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk membaca buku dan mendengar siaran berita BBC London. Siaran yang ia paling suka.

Tulisan-tulisan Om Ege sering saya baca sejak duduk di bangku SMA. Tulisan Om Ege bervariasi, bernas, kaya makna, dari pelbagai perspektif dan berpihak kepada wong cilik.  Mulai dari masalah sosial politik, pemerintahan, ekonomi kerakyatan dan lain-lain.

Karya Om Ege bukan hanya diminati masyarakat banyak. Tapi juga ibu rumah tangga. Almarhumah Aloysia Dona Martha da Silva Parera di Kelurahan Wairotang paling gandrung membaca tulisan Om Ege entah di Pos Kupang, Flores Pos dan Dian.

“Biar tak tulis namanya juga saya tahu itu tulisan Moat Ege,” ujar Aloysia Dona Martha da Silva Parera, seakan hafal betul gaya tulisan Om Ege.

Kadang-kadang tulisan Om Ege hanya inisial DEP. Belakangan saya tahu dari Aloysia Dona Martha da Silva Parera,  DEP itu da Gomez Egenius Paseli. Saya pun angguk-angguk.

Suatu ketika di tahun 1990 silam saya mendapatkan buku-buku yang tertata rapi di rak buku kamar Edward Lodovik da Gomez. Salah-seorang putra Om Ege di Depok. Vicky saat itu kuliah di Universitas Indonesia (UI) Jakarta.

Vicky sampaikan buku-buku itu adalah koleksi yang dihibakan ayahandanya.

Salah-satu buku yang saya minati adalah buku karangan Oriana Fallaci. Perempuan berkebangsaan Italia itu adalah mantan  wartawan Paris Match.

Oriana Fallaci berhasil mewawancarai 14  tokoh  yang paling berpengaruh di dunia. Ada  Henry Kissinger, ada Golda Meir, Yaser Arafat, Indira Gandhi, Ali Bhutto dan  Riza Pahlavi. Oriana Fallaci kemudian menulis buku berjudul Intervista con la storia (wawancara dengan sejarah). Buku karya Oriana Fallaci laris manis dan telah diterjemahkan ke pelbagai bahasa.

Belakangan Om Ege bukan hanya menulis di mass media, tapi juga penulis buku yang produktif. Buku -buku karyanya mengisahkan tokoh-tokoh asal kabupaten Sikka yang sukses di pemerintahan maupun non pemerintahan, seperti Frans Seda, Ben Mang Reng Say, VB da Costa, Paulus Samador da Cunha, Laurens Say, Daniel Woda Palle dan lain-lain. Buku-buku Om Ege menginspirasi semua orang.

Pada saatnya Om Ege meluncurkan karyanya sekaligus beda buku. Om Ege secara khusus mengundang kerabat-kerabat yang ia tulis dalam bukunya untuk menerima langsung  dari tangannya.

Tak hanya itu, pemerintah dan  masyarakat kebanyakan juga ia undang untuk hadir pada acara peluncuran buku.

Kini Om Ege sudah pergi, meninggalkan ratusan tulisan dan buku yang pasti sangat bermanfaat bagi pemerintah dan masyarakat. Tulisannya dapat menjadi tonggak  penting  dalam perjalanan pemerintahan,  khusususnya di kabupaten Sikka.

Itulah cara terbaik mengenang sosoknya yang hangat, tak pernah berhenti memberikan spirit untuk orang lain.

Selamat jalan Om Ege. Beristirahatlah dengan tenang dan damai di Bukit Iligetang. Peace in Love.

 

* Wartawan tinggal di Jayapura, Papua

Bagikan

Komentar

Berita Lainnya