oleh

Kopdit Obor Mas Maumere Diduga Lakukan Investasi Bodong

-HUKRIM-2.061 views

MAUMERE, MN – Proyek pembangunan perumahan milik Koperasi Kredit (Kopdit) Obor Mas diatas lahan seluas 6 hektar yang menelan anggaran senilai Rp. 13 Milyar yang terletak di Dusun Bolawolon, Desa Tana Duen. Kecamatan Kangae, Kabupaten Sikka yang dimulai dibangun pada tahun 2014 silam, hingga kini mangkrak dan tidak ada tanda-tanda akan dilanjutkan.

Hal tersebut membuat beberapa anggota salah satu kopdit ternama di Kabupaten Sikka tersebut kecewa dan membeberkan kebobrokan serta tidak adanya transparansi dari pihak manajemen Kopdit Obor Mas  saat melakukan MoU dan penunjukan PT. Thanarama Tritunggal sebagai developer proyek perumahan tersebut.

Yohanes Klementinus, salah satu anggota Kopdit Obor Mas kepada media ini mengungkapkan, dugaan mafia tersebut, dilakukan oleh pihak manajemen Kopdit Obor Mas pada tahun 2014 silam.

Klemens menuturkan, penunjukan PT. Thanarama Tritunggal dengan Direktur Utama Jimmy Tampubolon untuk pengerjaan bangunan perumahan ratusan unit tersebut yang menelan anggaran sebesar Rp. 13 M, tanpa sepengetahuan pengurus dan anggota Kopdit Obor Mas.

“Dana untuk proyek perumahan sebesar itu harusnya disampaikan pada saat Rapat Anggota Tahunan (RAT). Tapi setiap kali RAT tidak pernah disampaikan soal itu. Maka dari itu kami minta pihak Pengurus dan General Manager Obor Mas harus bertanggung jawab. Jangan sampai sudah ada kongkalingkong dengan PT. Thanarama Tritunggal untuk gelapkan uang nasabah. Ini investasi bodong namanya,” ungkap Klemens di hadapan beberapa awak media pada Sabtu (06/07/19) di kediamannya.

Klemen menambahkan, pengerjaan perumahan tersebut dilaksanakan pada tahun 2014 dengan masa kontrak kerja selama 1 tahun. Seharusnya, pada tahun 2015 proses pembangunan perumahan sudah diselesaikan oleh PT. Thanarama Tritunggal sebagai developer. Namun hingga kini, proyek pembangunan perumahan tersebut tidak dilanjutkan dan dibiarkan mubazir.

Hingga kini, tidak ada tindak lanjut dari pihak pengurus dan manajemen Kopdit Obor Mas dan tidak pernah menyampaikan progress pembangunan perumahan tersebut dalam setiap RAT tahun berjalan.

Klemens lebih lanjut mengatakan, dirinya mendapatkan informasi bahwa pihak pengurus dan manajemen Kopdit Obor Mas pernah melakukan pendekatan terhadap Jimmy Tampubolon di Jakarta dan di Ende. Namun, hasilnya nihil dan terkesan pihak pengurus dan manajemen menutup-nutupi informasi mengenai hasil pendekatan tersebut.

“Kami menuntut pihak pengurus dan manajemen harus bertanggung jawab soal ini. Tidak bisa didiamkan. Ini sudah menipu anggota. Dalam setiap RAT selalu ditutup-tutupi. Ini ada apa?,” beber Klemens dihadapan awak media.

Klemens kemudian berkomentar terkait pernyataan General Manager Kopdit Obor Mas, L Fredyanto, bahwa Kopdit Obor Mas tidak mengalami kerugian atas mangkraknya proyek perumahan senilai milyaran rupiah tersebut.

“Kalau tidak rugi kenapa harus kejar kontraktor sampai ke Jakarta bahkan pakai jasa debt collector? Kalau tidak rugi kenapa harus lapor polisi? Inikan konyol namanya, jawaban tidak masuk akal supaya mengelabui kebobrokan dalam manajemen kopdit. Saya menduga ini mafia yang dilakukan oleh pengurus, manajemen dan pihak kontraktor untuk menipu uang nasabah untuk kepentingan pribadi,” tegas Klemens.

Ditempat terpisah, salah satu anggota Kopdit Obor Mas yang enggan menyebutkan namanya mengungkapkan bahwa, Ketua Pengurus Kopdit Obor Mas, Andreas Mbete, pada salah satu kesempatan Rapat Anggota Tahunan (RAT) disalah satu kelompok mengakui adanya temuan terkait mangkraknya proyek pembangunan perumahan tersebut dan saat ini pihak Kopdit Obor Mas telah melaporkan ke Polres Sikka karena Dirut PT. Thanarama Tritunggal, Jimmy Tampubolon pernah memberikan cek kosong kepada pihak manajemen.

Dalam Laporan Pertanggungjawaban Pengurus dan Pengawas Kopdit Obor Mas Rapat Anggota Tahunan XXXV Tahun Buku 2018 dan tahun buku tahun sebelumnya dilaporkan bahwa MoU dengan PT. Thanarama Tritunggal Developer telah dihentikan berdasarkan keputusan pengurus Nomor 342/CU/Om/2017 tertanggal 06 Juli 2017. Namun hingga Tahun Buku 2018 pengurus belum menemukan developer pengganti pengerjaan pembangunan 360 unit rumah anggota KSP Kopdit Obor Mas di Desa Tana Duen.

Namun hingga kini, belum ada tanda-tanda kelanjutan pembangunan proyek perumahan tersebut.

Anggota Kopdit Obor Mas lainnya yang enggan menyebutkan namanya, kepada media ini menuding pihak pengurus dan manajemen Kopdit Obor Mas melakukan pembohongan terhadap anggota.

Pasalnya, pihak pengurus mengatakan bahwa lahan yang digunakan untuk pembangunan perumahan tersebut bukan merupakan aset milik Kopdit Obor Mas.

“Jelas-jelas lahan seluas 6 hektar di Tana Duen itu milik Obor Mas. Pengurus Obor Mas malah berkelit kalau lahan itu milik pihak kontraktor,” ungkap salah satu anggota Obor Mas tersebut.

Beberapa anggota Obor Mas yang ditemui media ini juga mengeluhkan banyaknya potongan pada saat melakukan pinjaman. Selain itu banyak pos anggaran seperti SSD dan SRI juga dinaikan.

“Jangan-jangan ini hanya akal bulus pengurus dan manajemen supaya bisa tutupi kerugian 13 M itu,” ungkap salah satu dari mereka. (ACQ-R2)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Lainnya